Jumat, 24 Agustus 2018

Perjuangan Melawan Eksim di Waktu Kecil

Eksim adalah sebuah penyakit kulit, dan eksim pada kaki merupakan salah satu penyakit yang benar-benar menyebalkan. Dulu waktu masih menduduki Sekolah Dasar, saya pernah mengalami penyakit eksim pada kaki yang membuat saya tersiksa selama berminggu-minggu karena eksim tersebut awalnya tidak saya pedulikan, dan pada akhirnya menjadi semakin parah hingga bernanah (di bagian telapak kaki). 

Eksim yang saya alami setelah diperiksa oleh dokter adalah termasuk Eksim Basah. Penyakit tersebut membuat saya kesulitan berjalan, tapi saya harus tetap sekolah karena pada saat itu mendekati waktu ujian. Sebenarnya dulu saya yang bandel karena tidak segera membawa ke dokter kulit, karena waktu itu saya masih phobia dengan yang namanya dokter, jadi saya selalu menangis ketika hendak dibawa ke dokter. (maklum masih anak-anak, sekarang sudah tidak hehe).

Sebelum dibawa ke dokter, saya dirawat oleh keluarga dengan cara yang biasa mereka lakukan dan populer di masyarakat. Hal-hal mengenai pengobatan tersebut yang masih saya ingat adalah dengan perpaduan minyak biawak dan penicillin (entahlah mereka dapat ilmu darimana). Lalu hal lain yang saya ingat adalah ditangkapkan seekor tokek oleh teman SD saya lalu dimasakkan dan saya makan. 

Ya jujur saja, waktu masih SD saya setiap hari sudah seperti syuting film Si Bolang, bermain bersama teman sering tidak memakai sendal, ke rawa, sawah, sungai, bahkan lari-lari di pemakaman main ayunan di pohon beringin. Saya ingat waktu itu mungkin setelah menginjak Emas nya anjing saat bermain dan telapak kaki ada sedikit bekas luka yang belum beres total (Emasnya besar tidak mungkin kalo itu milik kucing, kalo milik manusia juga ga mungkin, soalnya di tengah jalan dekat sawah), besoknya telapak kaki saya muncul satu bintil berair dan gatal, lalu saya garuk hingga pecah wkwk, rasanya fine dan anything fine (bukan cacar air). Hingga entah bagaimana akhirnya bisa parah dan menular ke kedua kaki. (Saya juga suka makan ayam, telur, mie dsb, mungkin juga menjadi penyebab).

Perlu diketahui, rasa sakit dari penyakit ini sangatttt menyiksa, infeksi yang terjadi membuat telapak kaki saya terus saja bernanah. Obat yang sering saya minum adalah Super Tetra untuk meredakan sakit, dan olesan dari perpaduan minyak biawak+penicillin agar luka cepat kering. Hal tersebut saya lakukan entah berapa minggu hingga akhirnya sembuh, luka kering namun masih tersisa sedikit rasa gatal.

Ujian Sekolah pun berlalu, alhamdulillah saya bisa berjalan dengan normal. Namun beberapa bulan setelah itu Eksim saya kambuh lagi. Bernanah lagi, yang mengharuskan kaki saya untuk diperban agar lukanya steril dan tidak malu untuk sekolah. Pengobatan yang sama dengan sebelumnya saya lakukan, namun bedanya kali ini terasa begitu lama tidak sembuh-sembuh, luka tidak kunjung kering, saya mulai lelah dengan semua luka ini.

Akhirnya keluarga saya memaksa saya agar mau dibawa ke dokter kulit, dengan segala kepasrahan saya pun mengikuti arahan mereka. Saya pun di bawa ke dokter kulit di area Mojokerto, namun saya lupa tempatnya. Dan puncak ingatan saya mengenai eksim adalah waktu disini. Awalnya setelah diperiksa, dokter bilang "waduuuhh... bla bla blaa" yang membuat saya takut, lalu dokter dengan segala rayuannya meyakinkan saya agar mau berbaring dan di anu. Anu apa?

Anu adalah sebuah penyiksaan, bagaimana tidak?? kedua tangan saya dipegang oleh Ibu saya, lalu dengan tenaga dalam supranatural saya menahan rasa sakit karena luka eksim saya dibersihkan oleh dokter, perbannya juga mulai lengket yang membuat sakit makin sakit saat perban tersebut dilepas. Saya orangnya tidak lebay, jadi saya hanya mengerang kesakitan saat itu, tidak teriak, namun sedikit mengeluarkan air mata. 

Setelah dibersihkan, saya sedikit tenang, namun keadaan berubah setelah entah semprotan apa menyerang. Kaki saya disemprot dan rasanya periiihhhh hingga saya mengkakukan kaki saya. Namun perihnya hanya sebentar. Akhirnya dokter memberikan resep obat yang banyak dan saya diperbolehkan pulang dengan dibekali beberapa aturan-aturan. 

Obatnya cukup banyak termasuk salep, saya lupa semua. Luka saya pun perlahan membaik dan kering. Karena selain salep, saya juga tetap melakukan olesan minyak biawak + penicillin saat hendak tidur (salep hanya pada saat pagi, siang, sore). Waktu sakit gelombang kedua tersebut adalah menjelang Hari Raya Idul Fitri, saya sering bersedih karena hanya bisa berbaring, lainnya bersenang-senang. Namun saya paham mungkin itu memang salah saya sendiri. 

Akhirnya luka saya sembuh tepat waktu masuk sekolah setelah hari raya. Saya pun mulai menghilangkan kebiasaan buruk saat bermain dan selalu menjaga kebersihan, apalagi ketika terluka saya selalu berusaha mencegah terjadinya infeksi.

Setelah hal itu, beberapa tahun saya baik-baik saja. Namun jika ada sedikit gatal yang muncul saya selalu siapkan salep Inerson, cukup ampuh bagi saya. Selain itu, salep esperson juga sama-sama berkhasiat, namun harga kedua salep tersebut cukup mahal. Dan alhamdulillah hingga sekarang eksim sudah tidak pernah muncul lagi, mungkin karena kekebalan tubuh mulai bertambah, wkwk.

Ohya, berikut adalah cara nenek saya mencampur minyak biawak dan penicillin :
  • Minyak biawak dihasilkan dengan cara setelah menyembelih biawak, daging dipisahkan dari tulang dan kulitnya lalu di goreng, lalu minyak bekas menggoreng tadi yang dijadikan ramuan. (lebih manjur jika daging tanpa dicuci katanya jika ingin pengobatan dengan makan daging biawak). (minyak biasa juga bisa, kata nenek saya wkwk)
  • Minyak biawak di campur dengan satu butir penicillin yang telah dihancurkan, takarannya sewajarnya saja. (nenek biasanya satu butir penicillin untuk satu alas gelas kecil atau lepek minyak biawak )
  • Campurkan di sebuah wadah aluminium atau metal agar bisa dipanaskan di kompor.
  • Panaskan hingga campuran merata.
  • Untuk teknik pengolesan menggunakan bulu ayam yang disisakan ujungnya, lainnya sebagai pegangan. 
Untuk tindak pencegahan eksim di kaki sih menurut saya selalu menjaga kebersihan. Cegah infeksi pada luka. Dan jangan biarkan kondisi kulit dalam keadaan panas lembab (biasanya sepatu tidak berkualitas yang menyebabkan keringat di kaki). Dan untuk pengobatan menurut saya ya langsung bawa ke dokter kulit saja, merekalah yang ahli di bidang ini. Jangan menunggu parah apalagi bernanah, auto sengsara gan.

Dan hal terakhir, bahwasannya gambar di atas hanya ngawurisasi, hehe, sebenarnya itu gambar paha biasa, saya edit malah jadi tryphobia eh apalah lupa.XD Terimakasih telah membaca. 


Apa Komentarmu