Kita tidak Meminta, Tapi Mengapa Tuhan Menciptakan Kita, lalu Dipaksa Ibadah? - Andreans
News Update
Loading...

Senin, 03 Januari 2022

Kita tidak Meminta, Tapi Mengapa Tuhan Menciptakan Kita, lalu Dipaksa Ibadah?

Heiii !! jangan salah paham terlebih dahulu ketika membaca judul artikel ini yaa. Artikel ini saya tulis karena terinspirasi oleh pertanyaan seorang netizen di platform sosial media Facebook. Bukan murni pertanyaan saya sendiri.

Ya meskipun dulu pernah terbesit pemikiran seperti itu, tapi saya sudah mendapatkan jawaban dan tidak begitu mempermasalahkan kembali pertanyaan tersebut. Karena itu dalam tulisan ini saya berusaha untuk memberikan tanggapan sesuai sudut pandang saya terkait pertanyaan berikut :

"Saya tidak pernah meminta untuk diciptakan ke dunia. Dan sekalinya diciptakan, saya dipaksa untuk beribadah? Kok Tuhan gitu banget ya?"

Pertanyaan tersebut jika tidak salah muncul di sesi komentar salah satu postingan pada sebuah grup Facebook "Meme Dakwah Islam Indonesia". Tepatnya oleh agan Palldi. Berikut adalah SS an komennya :

mengapa tuhan menciptakan kita

Sayangnya, beberapa orang yang membalas komentar tersebut kebanyakan memiliki kesan "menyudutkan" karena mungkin ingin membela ketika Tuhannya dikatain "Kok Tuhan gitu banget ya?". Padahal menurut saya agan Palldi ini termasuk dalam kategori "tidak tahu" atau lebih kasar lagi "sedang tersesat", bukan sedang memusuhi.

Santai gan..

Seperti kata Mbah Nun, ketika ada orang yang tersesat itu tunjukkan jalan, bukan malah di-bully dan dikata-katain. Realitanya, masih banyak yang belum pandai "membaca" keadaan dan terburu-buru termakan oleh nafsu atau keinginan-keinginan yang cukup egois. 

Oke, lanjut ke topik utama.

Benarkah Kita diciptakan bukan karena Keinginan Kita sendiri, dan untuk apa Tuhan menciptakan Kita?

Sesuai yang saya ketahui sebagai seorang muslim, ada benarnya, ada salahnya. Bisa dikatakan "benar" jika kita flashback ke penciptaan manusia yang pertama kalinya, yakni nabi Adam. Seperti yang kita tahu, semua adalah kehendak/keinginan Tuhan sendiri untuk menciptakan khalifah di muka bumi ini (yakni manusia).

Namun masih ada satu event lagi sebelum itu semua, yakni tentang "Nur Muhammad" yang merupakan ciptaan yang pertama kali, sebelum alam semesta ini ada. Jika bukan karena Nur Muhammad, maka tidak akan ada segala sesuatu yang kita saksikan saat ini. Termasuk ruh/nyawa kita juga berawal dari Nur Muhammad yang Allah ciptakan. 

Sesuai yang saya baca di Kicaunews.com tentang Nur Muhammad (https://kicaunews.com/2016/08/25/nur-nabi-muhammad-pertama-kali-yang-di-ciptakan-allah-swt/), Ruh kita diciptakan Allah dari pancaran Nur Muhammad. Dan hal lain yang saya tangkap mengenai Nur Muhammad adalah merupakan wujud kasih sayang, empati, keindahan, kemuliaan, dan semua yang baik-baik.

Jadi, yang bisa saya simpulkan adalah, adanya diri kita dan alam semesta ini didasari oleh kasih sayang Allah yang diwujudkan pertama kali melalui Nur Muhammad hingga menjadi semua yang ada saat ini. Sehingga benar, kita ini ada bukan karena ikhtiar kita sendiri, namun karena adanya kasih sayang Tuhan/Allah.

Lalu untuk apa Allah ciptakan Nur Muhammad yang dikasihinya? 

Jika Anda sudah mencapai pertanyaan seperti ini, maka sebaiknya Anda berhenti memikirkan Dzat Allah yang wajibul wujud, termasuk keinginan-keinginan dan kehendak-Nya. Dia adalah Tuhan yang benar-benar berbeda dari semua yang kita pikirkan atau khayalkan. 

Dalam hal ini, syaitan sudah mempengaruhi pemikiran Anda. Mengapa demikian? karena syaitan tahu bahwa kita tidak akan pernah tahu jawabannya, sehingga iman kita nanti bisa goyah, Anda harus kembali ke dalam kaidah keimanan semula. Kita adalah makhluk ciptaan yang serba terbatas. Komunikasi secara langsung dengan Tuhan saja tidak bisa, karena bukan nabi/rasul. 

Rasul pun tidak dapat melihat wujud Allah, hanya cahaya (cahaya di atas cahaya) dan pena nya saja yang tercipta dari Nur Muhammad yang sanggup dilihat. Apalagi kita yang manusia biasa? mampu apa? terlebih menebak-nebak (khayal) tentang-Nya, kecuali hanya spoiler kecil yang diberi tahu oleh sang Rasul.

Intinya, semua didasari oleh kebaikan, terutama kasih sayang. Dan semua sudah terlanjur wujud, maka kita wajib patuh dengan sabar. Toh Allah sudah menjanjikan hal yang baik pula di endingnya jika kita bersabar, ya kan? 

Jika Sayang, kenapa memaksa?

Mendengar kata "memaksa", beberapa ulama yang pernah saya dengar ceramahnya, memiliki jawaban aman. Yakni jawaban "salah" terkait pernyataan "Kita diciptakan bukan karena keinginan kita sendiri". Karena ada suatu proses sebelum perpindahan ruh kita ke alam fisik, dan kita memiliki peran besar dalam mengambil keputusan.

Proses tersebut adalah proses "perjanjian" antara ruh kita dengan Allah sebelum ruh kita berpindah ke alam fisik. Spoiler dari proses tersebut ada di Kitab Al-Qur'an Surah Al-A'raf Ayat 172 dan Surah Al-Hadid Ayat 8. 

Tentunya akan sulit diterima bagi yang tidak beriman pada kitab, dan pernyataan default orang-orang mungkin akan sama, yakni "saya tidak ingat dan tidak merasa pernah melakukan perjanjian". Padahal kita tidak tahu, mungkin dalam perjanjian tersebut ada sebuah "konsekuensi", entah apa. Jika lahir sudah dalam kondisi tau segalanya ya mungkin baik di mata kita, tapi belum tentu baik di Mata Allah. 

Salah satu fakta yang mungkin jadi konsekuensinya adalah kita bahkan tidak bisa ingat sama sekali tentang masa-masa bayi kita, ketika kita lahir, ketika kita dipeluk ibu, ketika menyusu di pelukan ibu, ketika kita pertama kali bisa melek untuk melihat, pertama kali bisa berjalan, dan hal-hal lain ketika baru pertama kali mewujud ke alam fisik.

Dan bagi mereka yang berfikir secara logika/sains tentu akan berteori tentang "wajarnya ketidakmampuan seorang bayi". Padahal yang menciptakan "kewajaran" tersebut ya siapa lagi kalau bukan Tuhan? Bahkan Tuhan juga bisa kok bikin pertunjukan di dunia ini tentang makhluk yang baru lahir langsung bisa jalan dan nyusu sendiri ke induknya, seperti yang dilakukan beberapa hewan mamalia. 

Bayi ikan pun langsung bisa berenang dan berinteraksi dengan dunia luar secara bebas. Dan ketika mereka menjawabnya dengan kata "wajar" dan "hukum alam", maka kembali lagi kita jawab, "lalu siapa yang membuat kewajaran dan hukum alam itu?" bahkan hingga memelihara kewajaran itu selama ini beribu-ribu tahun lamanya.

Lagi, Jika Sayang, Kenapa Memaksa?

Pertama, kita ada karena memang kehendak Allah sendiri sebagai perwujudan kasih sayangnya melalui Nur Muhammad. Lalu yang kedua, karena Maha Bijaksana-Nya Allah, Dia masih memberikan kita kesempatan untuk membuat keputusan sebelum mewujud ke alam fisik. Namun ini masih tetap memberikan sebuah dilema, apakah kita benar-benar dipaksa? atau inikah sebuah konsekuensi pilihan kita sendiri? ini adalah bukti keterbatasannya manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya, sehingga kita serba tidak tahu segalanya.

Solusinya adalah Iman atau Yakin.

Jika perjanjian itu benar adanya, maka saya tidak heran mengapa saya bisa sampai mewujud menjadi manusia seperti sekarang ini. hehehe. Jika Anda paham tentang watak Anda, mungkin Anda akan mampu membayangkan perjanjian itu dengan menerapkan watak Anda yg sekarang ini. Mungkin Anda akan tertawa, atau mungkin sedih, sangat semangat / serius, atau bahkan malu-malu / tsundere. Hahaha

Mau tidak mau sudah ada spoiler di Al-Qur'an. Jika tidak ada perjanjian itu pun saya tetap berterimakasih kepada Tuhan karena diberi kesempatan hidup menyaksikan kebesaran-Nya dan kasih sayang-Nya di dunia ini.  

"Ah bang Andre ngomong gitu karena hidupnya sudah enak kali ya? kek gak ada pikiran bgt? banyak duit jadi santai buat ngapa-ngapain, termasuk ibadah jadi lancar tidak keganggu pikirannya, keluarga bener, background orang alim semua jadi enteng, gitu?"

Kelak di surga gan kita bisa hidup leha-leha tanpa beban apapun :) semoga kita semua mudah untuk masuk ki dalamnya.

Dasarilah dengan Kasih Sayang

Kita merasa dipaksa ibadah, mengabdi kepada Tuhan, agar selamat dan terhindar dari siksa. Loh bukannya enak toh dikasih spoiler kunci keselamatan? menunjukkan betapa sayangnya Allah kepada Makhluknya yang serba lemah dan mudah melakukan dosa ini agar bisa selamat.

Seperti ucapan Habib Ja'far di konten video Youtube-nya bersama Cinta Laura. Kata beliau, bahkan adanya neraka pun termasuk wujud kasih sayang Allah kepada makhluknya. Bayangkan saja seseorang itu sakit, dan agar sembuh maka dia harus minum obat yang pahit. 

Bahkan saking luasnya rahmat atau kasih sayang Allah, kata Gus Baha dari beberapa riwayat yang beliau baca, ada penghuni neraka yang akhirnya dikeluarkan dari neraka lalu masuk ke surga hanya karena tidak putus asa mengucap asma Allah "Ya Hannan, Ya Mannan" (yang Maha Santun, dan Maha Memberi Anugrah). 

Yang berarti hal tersebut membenarkan konsep neraka sebagai tempat "penyembuhan" yang dikatakan Habib Ja'far. Karena Allah sendiri kelak yang akan memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang di neraka yang menunjukkan masih adanya iman di hatinya walau hanya sekedar biji zarrah.

Ya intinya, positive thinking sangat diperlukan dalam segala hal dan segala keadaan, utamakan kasih sayang. Karena sifat villain adalah sisi setan kita, bahkan mungkin kita sendiri sangat sadar akan hal itu, dan kadang bisa secara sengaja memunculkan sisi villain kita karena terpengaruh keadaan.

Sebelumnya, saya sangat khawatir terhadap ruh-ruh yang ditakdirkan untuk tidak beriman, apakah hingga kelak di hari pembalasan (surga dan neraka), mereka tetap tidak akan bisa beriman walau sudah diobati di neraka dengan siksaan? Bagaimana mungkin suatu makhluk tidak bisa beriman setelah disiksa di neraka? bahkan dengan begitu lamanya, menyaksikan kemurkaan Allah? Allah Maha Penyiksa, tapi saya yakin, Rahmat atau Kasih Sayang Allah lebih luas. Wallahua'lam

Apabila Anda masih merasa terpaksa untuk beribadah.

Mengapa Anda menganggap ibadah sebagai paksaan? apakah sudah hilang benih kasih sayang yang ada dalam hati Anda? saya rasa tidak, sejahat apapun Anda, saya yakin masih ada pihak yang Anda kasihi. Tidakkah Anda rindu dengan Tuhan? Anggap saja ibadah itu sebagai pengobat rindu. Ataukah karena masih kurangnya ilmu? ilmu itu dicari, bukan instant menghampiri, bergeraklah, semoga bisa Anda dapatkan dalam waktu dekat ini.

Pahami terlebih dahulu tentang diri Anda saat ini. Apakah Anda benar-benar merasa berat beribadah? ibadah apa yang Anda maksud? Sholat? Atau ibadah yang lainnya? Kenapa berat? Jika yang Anda tahu ibadah itu hanya sholat, Anda perlu banyak mencari pengetahuan lagi.

Jika yang Anda rasa berat adalah sholat, maka kenalilah terlebih dahulu penyebab Anda merasa berat melakukannya. Saya yakin Anda sangat paham betul dengan permasalahan diri Anda sendiri. Dan saya yakin betul Anda mampu shalat dengan rajin jika Anda mau. Hanya saja mungkin saat ini Anda sedang diuji karena buah keimanan Anda sendiri. Sadarlah itu masih termasuk bentuk kasih sayang Allah. Dan ingatlah, di antara sholat ke sholat itu terdapat ampunan. Jangan menyerah, Sujud adalah kenangan paling keren selama kita hidup di dunia (Kata Gus Baha lagi).

Kesimpulan

Tak apa, temukanlah Allah dalam hati yang patah-patah, kasih sayang itu indah, terus nikmatilah hingga membuatmu lupa tentang beratnya beribadah.


Jangan Lupa Share Gan

Give us your opinion

Hai Readers..
Terimakasih sudah menerapkan budaya membaca.
Done
close